“Alleluya”

“Syukur pada Tuhan”

“Puji Tuhan”

“Tuhan memberkati”

“Deelel”

Bersyukur merupakan cara kita berterima kasih pada Tuhan atas segala yang Dia berikan pada kita baik itu rejeki ataupun cobaan. Bersyukur memang suatu wujud nyata kita atas betapa kita mengingat Tuhan dalam hidup kita. Kita memang harus “melihat sisi Tuhan dalam segala aspek kehidupan”. Dan itu merupakan salah satu esensi kehidupan ini.

Namun…

Apakah benar setiap orang perlu “bersyukur” setiap saat dan setiap waktu. “Bersyukur” ini berbeda dengan bersyukur yang saya maksud di atas. yang saya maksud di sini adalah “mengumbar” rasa syukur kita di depan banyak orang dan di tempat umum di mana segala perbedaan dan keberagaman berada di dalam suatu ruang kehidupan yang sama dan saling berinteraksi satu sama lain.

Pengalaman yang saya dapatkan pada saat membuat paspor di daerah Jakarta Barat berkata demikian. Harus diakui agama yang saya tekuni adalah agama minoritas. Minoritas dan mayoritas harus bisa saling menghargai. Jika kita berada di dalam lingkungan mayoritas, kita sebagai minoritas jangan berbuat seenaknya dan melakukan hal sensitif yang bisa memicu perselisihan. Hal ini tidak disadari oleh seorang ibu di samping saya saat mengantri membuat paspor.

Buat saya ini merupakan hal yang cukup menggelikan dan saya hampir tertawa (namun saya tahan). Dia merupakan seorang calo membuat paspor yang menawarkan jasanya pada pembuat paspor yang tidak mau repot terhadap birokrasi di Indonesia. Beliau bersama tiga orang temannya duduk di samping saya dan membicarakan tentang “Roh Kudus” dengan berapi-api. Padahal di sekelilingnya…Anda bisa membayangkan sendiri kan? Semua yang ibu tersebut katakan sangat menyinggung orang lain yang berbeda kepercayaan (Menurut saya juga).Berikut percakapannya yang saya ingat dan mungkin sedikit berbeda naum intinya sama.

A : Si Ibu dengan “Roh Kudus” B1,B2 : Temannya yang lain

A : Jadi Bu, di Alkitab ditulis kita harus menyebarkan kabar gembira(Sambil memegang uang hasil kerjanya loh…ha3). Yesus sudah disalib. Jadi sekarang kita harus bersyukur.

B : Ngomong2 ibu dari gereja mana?

A : Saya dari gereja ******

B : Oh kita sama dong Bu. Iya, Bu. Memang kita harus menyebarkan Kabar Gembira. Menyadarkann orang lain yang belum sadar ya, Bu.

A : Puji Tuhan

B : Jadi Ibu “bantuin” orang bikin paspor?

A : Puji Tuhan,Bu. Yesus menolong saya. Cuma kan kita dibayar buat cape nunggunya itu loh. Tetep lah ada ongklos buat nunggunya itu. Ongkos cape.

Dan pembicaraan basa basi lainnya yang berkali-kali menyebut “Puji Tuhan”, “Alleluya”, “Demi Yesus”, “Tuhan Memberkati”. Dan itu terjadi di lingkungan yang sangat tidak pantas berbicara seperti itu. Saya hanya bisa tertawa dalam hati. Tidak emosi, hanya geli melihat kejadian yang untuk saya langka. Bisa anda bayangkan perasaan orang-orang di sekitarnya (Keadaan saat itu cukup ramai). Dan akhirnya saat tiba giliran ibu tersebut percakapan yang paling saya ingat pun terjadi.

B : Bu, giliran Ibu.

A : Ya terima kasih. Ingat Bu Pokoknya Yesus memberkati kita. Puji Tuhan semuanya lancar. Yesus selalu membimbing saya.

Ya ampun Bu. Antri foto saja merepotkan Yesus. Kasihan Yesus kalau antri foto saja minta bimbingan-Nya. Belum mandiri nih si Ibu. He3…