Sedih memang melihat berita-berita di media massa tentang aksi demonstrasi dan keributan antara mahasiswa dan pihak berwajib. Apa yang mereka perjuangkan? Apakah mereka ini para kaum intelektual yang nantinya akan meneruskan Indonesia? Pada tahun 1998, para mahasiswa seantero Jakarta, bahkan Indonesia, melakukan demonstrasi untuk menjatuhkan Orde Baru. Dan mereka berhasil. Mengapa? Menurut saya, semua itu karena ada tujuan dari demonstrasi tersebut (Walaupu saya tidak begitu menyukai demonstrasi). Tujuan mereka adalah menjadikan Indonesia keluar dari rezim Orde Baru. Menciptakan Reformasi. Lalu setelah masa-masa tersebut, mahasiswa mulai terpecah-pecah sesuai dengan kepentingannya masing-masing. Tidak ada lagi semangat mempertahankan harga diri bangsa. Yang ada hanyalah demonstrasi tanpa tujuan dan tanpa ujung. Kebanyakan demonstrasi saat ini tidak memberikan hasil dan lebih banyak menciptakan keributan dan aksi-aksi anarkis seperti yang terjadi di Makassar dan di UKI, Cawang. Saya bukanlah penentang demonstrasi dan saya bukanlah penentang gerakan-gerakan mahasiswa, tapi apakah cara-cara anarkis dan dorong-dorongan masih diperlukan di dalam demonstrasi? Mengapa tidak melakukan demonstrasi damai seperti membagikan bunga atau memberikan orasi yang bukan sekadar mencari muka dan supaya gerakan mahasiswa tersebut tidak dianggap mati?
Demonstrasi sudah kehilangan jiwanya. Jiwanya sudah digantikan menjadi hal-hal lain yang kurang penting. Hal ini diperburuk oleh para demonstran yang mudah tersulut amarah oleh para provokator yang entah darimana datangnya
Apakah kaum intelektual Indonesia sudah kehilangan harga diri dan akal sehatnya????
(more…)
Dan yang sebagian ini menjadi layu
Yang satu lagi bisu
Dan yang lainnya terpaku
Melihat mengapa bintang itu
jatuh
di atas mimpiku
yang terpaku
membisu
dan menjadi layu
Akhirnya dia pun menjadi satu
dengan-Mu
~semuanya baru lima tahun berlalu
~dedicated to my father
~coz I wasn’t there when you flew away…
Hidup itu indah dengan segala kekurangannya..Dan itu saya pelajari dari seorang penjual koran di pinggiran lampu merah. Kemarin saya pergi bersama beberapa teman saya di sekitaran Jakarta. Dalam perhentian kami, kami melihat seorang penjual koran yang berjualan dengan penuh semangat. Suaranya lantang dan penuh senyum. Pria tersebut berjualan dengan lelucon-leluconnya dan dengan senyumnya yang menyenangkan. Namun jika hanya itu saja, saya masih tidak merinding melihatnya dan tidak akan menceritakan ini di blog saya. Yang hebat adalah DIA TIDAK PUNYA KAKI DAN TANGANNYA HANYA SATU. Saat melihatnya saya langsung merinding..Hebat. Bahkan orang yang memiliki keterbatasan dan kekurangan saja masih bisa tersenyum dan memantulkan indahnya dunia lewat senyumnya itu….
Lalu mengapa kita yang diberi banyak kelebihan untuk melakukan sesuatu yang lain dibanding bapak tersebut tidak pernah bersyukur? Mengapa kita jarang tersenyum??? Mengapa kita jarang memandang ke bawah dan lebih senang melihat ke atas?
Mulailah hari ini dengan senyum….
It was a creed written into the founding documents that declared the destiny of a nation.
Yes we can.
It was whispered by slaves and abolitionists as they blazed a trail toward freedom.
Yes we can.
It was sung by immigrants as they struck out from distant shores and pioneers who pushed westward against an unforgiving wilderness.
Yes we can.
It was the call of workers who organized; women who reached for the ballots; a President who chose the moon as our new frontier; and a King who took us to the mountaintop and pointed the way to the Promised Land.
Yes we can to justice and equality.
Yes we can to opportunity and prosperity.
Yes we can heal this nation.
Yes we can repair this world.
Yes we can.
We know the battle ahead will be long, but always remember that no matter what obstacles stand in our way, nothing can stand in the way of the power of millions of voices calling for change. (We want change.)
We have been told we cannot do this by a chorus of cynics…they will only grow louder and more dissonant ……….. We’ve been asked to pause for a reality check. We’ve been warned against offering the people of this nation false hope.
But in the unlikely story that is America (Indonesia) , there has never been anything false about hope.
Now the hopes of the little girl who goes to a crumbling school in Dillon are the same as the dreams of the boy who learns on the streets of LA; we will remember that there is something happening in America; that we are not as divided as our politics suggests; that we are one people; we are one nation; and together, we will begin the next great chapter in the American (Indonesian) story with three words that will ring from coast to coast; from sea to shining sea:
Yes We Can
God…Just a message saying good night and take care made me lost all of concentration in my Heaps paper. My heart beats just because her little smile. My brain said it’s a sin to think dirty of her. Is this what’s called “the taboo words”??? Is it like before ?? Is this the real one? Or not? Arrgh…Too hard to tell. Too confuse to think.